Entri Populer

Thursday, June 30, 2011

Ratusan Anak Perempuan India Dioperasi Jadi Laki-laki

Lebih dari 300 anak perempuan di India diduga telah melakukan operasi kelamin menjadi laki-laki. Seluruh anak tersebut kabarnya dilakukan atas permintaan orang tua mereka. Pegiat hak anak dan perempuan mengutuk praktik tersebut sebagai kegilaan sosial yang menghina perempuan India. Para dokter itu diduga menerima bayaran Rp 27 juta lebih untuk setiap operasi kelamin. Masyarakat di India lebih memilih anak laki-laki antara lain dengan melakukan pengguguran kandungan pada bayi perempuan. Mereka khawatir anak perempuan akan menjadi beban ekonomi mereka dengan biaya pernikahan yang tinggi maupun biaya mahar yang mahal. Sekarang ini terdapat tujuh juta lebih anak laki-laki usia di bawah tujuh tahun dibandingkan perempuan yang jumlahnya lebih sedikit. Para pegiat menyatakan bahwa anak-anak perempuan di India tidak aman walaupun mereka tidak diaborsi dan berhasil dilahirkan. Praktik operasi kelamin ini terungkap setelah media melaporkan bahwa anak-anak di India dioperasi oleh dokter di Indore, Madhya Pradesh.
Para dokter membantah investigasi tersebut dengan menyatakan para anak perempuan yang dioperasi itu memiliki kelainan kelamin. Mereka dikirim ke klinik oleh orang tuanya untuk menjalani operasi ‘perbaikan’. Hanya anak yang lahir dengan dua alat kelamin saja yang bisa dioperasi. Namun, para pegiat menyatakan orang tua dan dokter salah dalam melakukan identifikasi kelamin dengan mengubah kelamin dari perempuan menjadi laki-laki.
Operasi itu dikenal dengan sebutan genitoplasty, yakni dengan membentuk penis dari organ perempuan kemudian anak disuntik hormon laki-laki. Dokter VP Goswami, Presiden Akademi Paediastrik India di Indore, menyatakan temuan kasus itu sangat mengejutkan. Ia mengingatkan kepada orang tua bahwa operasi itu bisa mengakibatkan anak mereka mandul dan tidak subur ketika mereka dewasa.

Tikus Raksasa Ini Lahap 2 Bayi

Mungkin akan terdengar aneh bila ada tikus yang dapat melahap bayi. Namun, berbeda dengan tikus yang berada di Afrika Selatan. Disana, tikus-tikus tersebut berukuran sebesar kucing. Bahkan, mereka dapat terus tumbuh hingga mencapai satu meter dari moncong hingga ekor dan memiliki gigi depan sepanjang 2,5 cm. Dengan ukuran sebesar itu, tikus-tikus tersebut mencari mangsa yang cukup besar, salah satunya adalah bayi manusia. Baru-baru ini, telah terjadi dua peristiwa mengerikan. Telah dilaporkan bahwa dua bayi menjadi korban tikus-tikus tersebut. Lunathi Dwadwa (3) tewas sedang tidur di kawasan kumuh di luar Cape Town. Sementara seorang bayi lain menjadi mangsa tikus di Soweto, tak jauh dari Johannesburg pada hari yang sama. Lunathi telah ditemukan tewas oleh kedua orang tuanya dengan kondisi yang sangat mengerikan. Anehnya, saat tikus itu menyerang Lunathi, tidak ada sedikitpun jeritan atau tangisan yang keluar hingga kedua orang tuanya pun tak mengetahui kejadian tersebut.
“Saya tidak bisa lupa betapa mengerikan kondisi anak saya. Matanya keluar, wajahnya rusak dari alis hingga pipi,” ujar sang ibu, Bukiswa Dwadwa (27). “Tidak ada pelaku lain yang dapat melakukan itu selain tikus,” ujar sang ayah, Mncedisi Mokoena. Tak lama setelah kejadian tersebut, terdapat laporan kembali dengan kasus yang sama. Seorang bayi perempuan telah diserang oleh segerombolan tikus raksasa ketika ibunya yang masih remaja itu pergi bersama dengan teman-temannya. Hingga akhirnya, pada kejadian tersebut, sang ibu harus ditahan karena dianggap lalai dalam menjaga anaknya hingga menyebabkan kematian.
Tikus-tikus raksasa itu biasanya ditemukan di kawasan-kawasan kumuh atau tempat sampah. Tikus-tikus tersebut diyakini termasuk jenis African Giant Pouched Rats, salah satu jenis tikus terbesar di dunia. Biasanya mereka lebih aktif untuk berburu pada malam hari. Seperti yang kita ketahui, tikus adalah salah satu hewan yang dapat memakan apa saja. Bahkan, populasinya pun dapat berjumlah sangat banyak dalam waktu yang singkat. Bayangkan saja, tikus dapat memproduksi 50 anak dalam setahun. Namun, beberapa suku di Afrika sengaja untuk mengembangbiakkan tikus jenis tersebut untuk dimakan.

Wednesday, June 29, 2011

The Biang K-Rocks - Jempol Digoyang

PT Liga Siapkan Dua Opsi Piala Indonesia 2011

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsONfC1b943qQ-YV2EkLKH8Op_eAzLfsuYitJp5x5RKmDiZHUIIv2sQoaYm1iZU55n8rRRGyYeXpxf0IhWP297FXvZYMPwXGrFoo9t-s_DVzysfRiskSuhDgKIryZZ6xHPwQqmbSigJ-I/s1600/liga+indonesia.jpg
 
PT Liga Indonesia telah menyiapkan dua skenario pelaksanaan Piala Indonesia 2011. Turnamen yang diikuti oleh tim-tim dari tiga kasta berbeda ini terpaksa molor karena kisruh PSSI yang tak kunjung selesai.

Piala Indonesia 2011 sejatinya digelar Juni dan Juli 2011. Namun penyelenggaraan batal karena PSSI tak kunjung berhasil menggelar Kongres pemilihan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota exco 2011-2015.

CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono mengatakan, Piala Indonesia 2011 akan digelar bersamaan dengan Liga Super Indonesia (ISL) 2011/2012, Oktober mendatang. Ada dua opsi yang ditawarkan terkait penyelenggaraan even ini.

"Kami merencanakan penyelenggaraan Piala Indonesia dilaksanakan setelah Kongres PSSI digelar. Paling cepat diselenggarakan pada awal Oktober 2011," ujar Joko kepada wartawan di kantor PSSI, Selasa, 28 Juni 2011.

"Dua format disesuaikan dengan orientasi pelaksanaan Piala Indonesia yang akan digelar untuk tujuan apa dulu," ujarnya.

Menurut Joko, opsi pertama yang ditawarkan adalah sebelum registrasi AFC, Desember 2012. Tawaran ini berlaku bila pelaksanaan ditujukan untuk menjaring klub yang berhak tampil di tingkat Asia pada musim 2011-2012.

"Berarti harus digelar selama sebulan penuh dan selesai sebelum Desember. Piala Indonesia bisa dituntaskan selama sebulan penuh jika tidak ada even lain yang digelar bersamaan. Tapi dibutuhkan kerjakeras dan komitmen semua pihak serta bantuan sponsor," ujar Joko.

Sedangkan opsi kedua adalah menggelar Piala Indonesia mulai Oktober 2011 hingga Mei 2012. "Jika opsi ini yang dipilih, maka perwakilan klub Indonesia yang akan mengikuti kompetisi Asia musim ini cukup dipilih dari hasil kompetisi Liga Super Indonesia musim lalu," ujarnya.

Meski demikian, Joko menegaskan dua opsi ini belum diputuskan. Menurutnya, PT Liga Indonesia masih menunggu kepengurusan baru PSSI.

"Tidak bisa dipastikan sekarang. Harus menunggu dulu Kongres 9 Juli berjalan dan selanjutnya proposal Piala Indonesia ini akan dikomunikasikan dan ditelaah oleh pengurus PSSI," ujar Joko.

Meski demikian, Joko secara pribadi berpendat opsi kedua lebih ideal. Pasalnya, Piala Indonesia merupakan even besar yang tidak bisa digelar secara sembarangan hanya untuk menggugurkan kewajiban saja.

"Melainkan harus berorientasi untuk mengembangkan potensi dan menjadi indikator serius bisnis sepakbola," tandasnya.

Astronom Rusia: Kita Bertemu Alien Tahun 2031

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz1SiRDOq-WW1U7Z3NOcPiJ7ni9gr6LmToWxPuov0aCdASBVCEy-vWPRmAVVp0aYZFa79jPuhOez0OvH-0HMkA7MrYWAgPJEq8oojZgrz4uZzJSbEvMSCDdPJQKYEKBl1jX6qA6xT0zHM/s1600/sebuah_alien_di_museum_of_science__as.jpg
 
 
Keberadaan mahluk cerdas selain manusia di alam semesta -- atau alien -- masih jadi wacana semi dongeng. Belum ada bukti sahih keberadaan mereka. Meski demikian, seorang astronom terkemuka Rusia yakin, manusia akan menjumpai peradaban alien dalam waktu relatif dekat. Dua dekade mendatang.

"Asal-usul kehidupan tak terelakkan seperti halnya formasi atom...Kehidupan juga ada di planet lain. Kita akan menemukannya dalam waktu 20 tahun," kata Andrei Finkelstein, direktur Russian Academy of Sciences, seperti dimuat situs Guardian.

Berbicara dalam forum internasional yang didedikasikan untuk pencarian kehidupan ekstraterresterial, Finkelstein mengatakan, diketahui 10 persen dari seluruh planet yang telah diketahui, berputar mengitari mataharinya di galaksinya -- seperti halnya Bumi. Ditambahkan dia, jika air bisa ditemukan, maka bisa dipastikan ada kehidupan di planet itu.

Seperti apa alien dalam bayangan Finkelstein? Kata dia, kemungkinan besar mirip dengan manusia: punya dua tangan, dua kaki, dan kepala. "Warna kulit mereka mungkin berbeda, toh manusia kan juga begitu," kata dia.

Institut yang dijalankan Finkelstein menjalankan program untuk mengawasi dan mengirimkan sinyal radio ke luar angkasa. Program ini diluncurkan pada tahun 1960-an, di puncak perang dingin yang menjalar ke persaingan penjelajahan angkasa. "Sepanjang waktu kami telah mencari peradaban luar bumi. Kami selalu menunggu datangnya pesan dari ruang angkasa," katanya.

Dalil Finkelstein diperkuat sejumlah ilmuwan. Salah satunya, pada bulan Maret seorang ilmuwan NASA memicu kontroversi karena mengklaim telah menemukan fosil kecil mirip serangga alien di dalam meteorit yang mendarat di Bumi.

Adalah Richard Hoover, seorang astrobiologis pada pusat penerbangan luar angkasa Marshall di Alabama yang mengatakan, filamen dan struktur meteorit mengandung fosil mikroskopis makhluk luar angkasa yang menyerupai ganggang, yang dikenal sebagai cyanobacteria.

Dalam Journal of Cosmology, Hoove menuliskan, bahwa kurangnya nitrogen dalam sampel -- unsur yang penting bagi kehidupan di Bumi -- mengindikasikan bahwa mereka adalah "sisa-sisa bentuk kehidupan di luar bumi yang berasal dari tubuh di induk meteorit yang mengandung air -- sebelum batu angkasa itu memasuki atmosfer bumi.

Soal keberadaan alien juga disinggung oleh Charles Liu, profesor astrofisika dari City University of New York Staten Island dan peneliti dari Hayden Planetarium di the American Museum of Natural History.

Apakah alien benar-benar ada? "Ya. Alam semesta ini sangat sangat luas dan hukum alam berlaku sangat konsisten di seluruh ruang yang sangat luas tersebut," kata Liu, seperti dikutip dari Space, 28 Juni 2011. "Kemungkinan bahwa hanya ada satu kehidupan yang tumbuh berkembang di seluruh alam semesta tersebut hampir mencapai nol," ucapnya.

Liu menyebutkan, jika ada kehidupan yang bisa tumbuh di satu tempat, pastinya ada pula kehidupan serupa itu di tempat lain. Pertanyaan berikutnya, apakah makhluk luar angkasa ada?

"Ya. Tetapi apakah makhluk tersebut mendarat di Bumi? Jawabannya, tidak," ucap Liu. "Tidak ada satupun dari yang disebut-sebut sebagai bukti kemunculan makhluk luar angkasa di Bumi mengandung air setelah diuji coba secara ilmiah," ucapnya.

Apakah Alien Itu Benar-benar Ada?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdRhag2YhV1KZT1d6iD73sbsnbmo6iUr9FevnrF_VNRQ_nL1wHITt-RIw5VGvhjbQfDKYSiZRFOQoeNu-FGoHKiWJzRLXybGYQsec59seW8F9vxxVnbJV8kVB_ZX3ui3XBsBrzzKnTa9A/s1600/sistem_tata_surya.jpg
 
 
 
Pertanyaan seputar apakah ada kehidupan lain di luar planet Bumi merupakan salah satu dari 3 pertanyaan yang paling sering diutarakan pada para ilmuwan dan astronom. Dua pertanyaan lain adalah apakah Tuhan benar-benar ada dan apa yang terjadi jika kita terhisap ke black hole.

Menurut Charles Liu, profesor astrofisika dari City University of New York Staten Island dan peneliti dari Hayden Planetarium at the American Museum of Natural History, ia selalu mendapatkan setidaknya salah satu dari tiga pertanyaan di atas saat berada di ruang publik.

Selama bertahun-tahun, ia mencari jawaban terbaik untuk ketiga pertanyaan itu berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ia temukan serta pendapat pribadinya. Adapun untuk menjawab apakah ada alien, berikut ini jawabannya:

"Ya. Alam semesta ini sangat sangat luas dan hukum alam berlaku sangat konsisten di seluruh ruang yang sangat luas tersebut," kata Liu, seperti dikutip dari Space, 28 Juni 2011. "Kemungkinan bahwa hanya ada satu kehidupan yang tumbuh berkembang di seluruh alam semesta tersebut hampir mencapai nol," ucapnya.

Liu menyebutkan, jika ada kehidupan yang bisa tumbuh di satu tempat, pastinya ada pula kehidupan serupa itu di tempat lain. Pertanyaan berikutnya, apakah makhluk luar angkasa ada?

"Ya. Tetapi apakah makhluk tersebut mendarat di Bumi? Jawabannya, tidak," ucap Liu. "Tidak ada satupun dari yang disebut-sebut sebagai bukti kemunculan makhluk luar angkasa (extraterrestrial) di Bumi mengandung air setelah diuji coba secara ilmiah," ucapnya.

Pertanyaan berikutnya, kata Liu, adalah apakah kita akan berkomunikasi dengan mereka?

Sejak pengiriman gelombang radio dilakukan dari planet Bumi, sinyal tersebut telah berjalan sekitar 50 juta tahun cahaya dari sini atau sekitar 300 triliun mil.

"Namun, galaksi Bima Sakti kita sendiri ukuran lebarnya mencapai 600 ribu triliun mil. Artinya, sinyal radio itu membutuhkan waktu berabad-abad sebelum bisa berhasil keluar dari galaksi ini," ucapnya. "Peradaban lain di galaksi ini, kalaupun ada, tidak memiliki peluang untuk menerima sinyal radio yang kita kirimkan, kecuali jika mereka benar-benar ada di dekat sini," ucapnya.

Begitu pula dengan kita, Liu menyebutkan. "Meski dengan berbagai upaya, kita nyaris tidak mungkin mendeteksi sinyal radio dari bintang terdekat. Apalagi dari bintang yang jauh jaraknya," ucap Liu.

Jika demikian, sebut Liu, apakah ada peluang bahwa kita akan mampu melakukan kontak dengan kehidupan extraterrestrial? "Kemungkinan selalu ada. Namun peluangnya sangat-sangat kecil," ucap Liu.

Ditemukan, Sistem Planet Aneh yang Mematikan



Dua orang astronom di Afrika Selatan telah menemukan bukti akan adanya dua planet raksasa yang mengorbit sistem bintang kembar. Temuan tersebut dilaporkan di South African Astronomical Observatory (SAAO).

Menurut SAAO, sistem tata surya dengan dua planet dan dua ‘matahari’ yang ditemukan oleh Stephen Potter dan Encarni Romero-Colmenero tersebut merupakan contoh dari sebuah sistem planet yang ‘sangat aneh’.

“Dua buah bintang, satu merupakan white dwarf dan yang lain merupakan red dwarf, berada sangat dekat sehingga mereka hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk saling mengorbi satu sama lain,” sebut kedua astronom, seperti dikutip dari News24, 17 Juni 2011.

Sistem planet itu, kedua astronom menyebutkan, berorientasi dengan cara yang sangat aneh, sehingga dari Bumi, sepasang bintang itu saling menimbulkan gerhana setiap kali mengorbit, jika dilihat dari Bumi.

Potter dan rekan-rekannya mendapati pula bahwa gerhana tersebut tidak terjadi dalam waktu-waktu tertentu. Kadang gerhana datang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Temuan ini membuat mereka berhipotesa bahwa hadirnya dua planet raksasa itu memberi efek gravitasi yang akan menyebabkan bintang tersebut mengorbit dengan tidak beraturan. Planet-planet itu juga akan sedikit mempengaruhi jeda antara dua gerhana tersebut.

Dari pengukuran, astronom berhasil membuat perkiraan bahwa massa kedua planet itu setidaknya enam dan delapan kali massa planet Jupiter. Kedua planet juga membutuhkan waktu 16 dan 5 tahun untuk mengorbiti kedua bintang yang jadi ‘mataharinya’ tersebut. Namun sayangnya, planet-planet itu berada di jarak yang sangat jauh untuk dapat difoto secara langsung.

Selain itu, sistem planet binary star yang diberi nama UZ For itu juga merupakan sistem planet yang sangat tidak ramah untuk ditinggali.

“Karena kedekatannya, gravitasi milik bintang white dwarf secara konstan terus mencuri material dari permukaan bintang red dwarf,” kata astronom. “Aliran material ini akan menghantam bintang white dwarf dan membuatnya menjadi sangat panas hingga ke suhu jutaan derajat,” sebutnya.

Akibatnya, astronom menyebutkan, bintang itu akan membanjiri sistem planet tersebut dengan radiasi sinar X dengan jumlah yang sangat banyak dan mematikan.

Sistem planet aneh itu sendiri dapat ditemukan setelah astronom mengobservasi menggunakan Southern African Large Telescope (SALT) baru milik SAAO yang mampu mengombinasikan data yang dikumpulkan oleh banyak observatorium dan satelit dalam jangka waktu 27 tahun.